bintang

Sabtu, 18 Oktober 2014

Salahkah jika aku berbeda?


Ukhty, salahkah jika aku berbeda? Ini prinsip agama yang aku pegang, yang dengan itu aku berharap kalian dapat menghargai keputusanku bukan malah menjauhiku.
***
Mungkin jika kamu menjadi aku saat ini, entah apa dan bagaimana sikap yang akan kamu perbuat? Hidup dikerumunan orang yang menganggapmu “aneh”. Dianggap berbeda karena mempertahankan sunnah. Ditambah lagi dengan kondisi orangtua mu yang belum terlalu faham akan kebaikan dari sunnah itu.
Ya, kamu pasti sulit membayangkannya bukan? Apalagi menjalankannya? Namun itulah yang aku rasakan saat ini.
Ukhty, mungkin dirimu lebih beruntung karena lingkungan mendukungmu, mulai dari lingkungan tempat sekolahmu yang memang teguh terhadap sunnah itu, kemudian orangtua yang selalu mendukungmu, atau bahkan bagi yang sudah bersuami selalu di back-up oleh suami mu.
Sedangkan aku?
Aku tak seberuntung kalian. Namun aku sangat bersyukur akan hidayah yang telah Allah berikan untukku, itu sudah sangat luar biasa bagiku.
Tapi yang aku takutkan sekarang ialah, aku takut Allah mengambil hidayah itu dariku setelah Ia memberinya. Aku takut aku tidak mampu untuk beristiqomah.
Ketika mendapat hidayah itu, mungkin jalan yang ku tempuh berbeda dengan kalian.  Aku mendapatkannya bukan dari guru, bukan dari sekolah, juga bukan dari teman dan yang lainnya.
Aku mendapatkan hidayah itu dari Kitab Suci Al-Qur’an ! Ya, kitab pedoman hidupku. Ketika itu pertama kalinya aku khatam membaca terjemah alquran. Itupun aku paksakan harus khatam membaca terjemahan Qur’an ini, karena aku malu, aku malu pada Allah untuk mengaku diri seorang muslim, tapi kitab-kitab yang selain itu, mulai dari buku pelajaran disekolah, komik ataupun novel sudah beratus-ratus buku ku khatamkan. Namun terjemah Qur’an? Aku terus membaca arabnya, tanpa berusaha untuk memahami maknanya.
Hidayah itupun langsung aku dapatkan dalam satu waktu. Aku langsung mengetahui  ISLAM secara KAFFAH(total), sampai-sampai  hal itu membuat kepalaku pusing dan aku sangat takut. Aku takut jika tidak mengamalkannya karena aku sudah mengetahuinya !
Untuk itulah aku langsung pindah ke jurusan Tafsir Hadits Ushuluddin untuk lebih menguatkan semua yang telah ku ketahui, dan pastinya hanya jurusan itu satu-satunya dikampusku yang dapat lebih mendekatkanku dengan Al-Qur’an.
Sebulan setelah pindah jurusan pun,akhirnya aku langsung menetapkan hati, untuk mengamalkan sunnah itu, yakni “memakai cadar”.

***
Dan mulai saat itulah ujian demi ujian ku rasakan, mulai dari cemoohan, ejekan, hinaan bahkan sindiran, yah sindiran orang-orang yang meremehkan ku, karena aku hanya alumni dari sekolah umum. Bukan aliyah, madrasah, pesantren dan sebagainya. Mulai dari bahasa Arabku yang sangat kurang (karena pertama kali mengetahui bahasa arab ialah dikampus),dan lain-lain. Tapi, hei?!! Apa kalian tidak mengetahui, bagaimana dengan para mualaf yang baru mempelajari Islam bahkan ilmu nya mampu mengungguli mu?
Ketahuilah, setiap orang yang mendapat hidayah, pasti ia memiliki alasan yang kuat untuk berdiri kokoh pada pilihannya walau sekalipun angin topan yang menghadang karena  tempatnya bersandar cuma satu, yaitu Allah ! Allah yang akan melindunginya dan akan memahamkan ia tentang agama !
***
Pada mulanya aku sangat sedih dan tertekan dengan banyaknya gunjingan yang menimpaku, dan aku pun bingung kepada siapa aku sandarkan tubuh ini untuk mengadu, kala itu ibuku belum benar-benar menerima cadarku, jadi aku tak berani untuk menceritakan kegundahanku diluar sana. Aku hanya ingin ibu tahu bahwa aku bahagia dengan keputusanku.
Namun kalau ayah, hingga sekarang ayah belum bisa menerima cadarku. Namun kami memiliki perjanjian. Dan aku tetap mengenakannya di kampus.
Seiring dengan banyaknya tuduhan yang menyerangku. -Ah, aku tak mau mengingat apa saja tuduhan-tuduhan yang mereka katakan.- Yang penting aku perjelas disini, TIDAK ADA SEORANGPUN YANG MEMPENGARUHIKU. ! aku tidak mengikuti pengajian-pengajian yang kalian tuduhkan ! aku juga bukan dari sekelompok tertentu yang kalian fitnahkan ! Aku seorang Muslimah ! Dan hanya seorang muslimah yang berusaha untuk menjadi lebih baik dan taat trhadap perintah Robbnya !
“Ya Allah.. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui, janganlah Engkau  menyiksaku karena apa yang mereka ucapkan dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka perkirakan..” (Ali bin Abi Thalib)
***.
Setelah mendapatkan hidayah itu, barulah aku berfikir keras bagaimana cara agar aku mampu tetap beristiqomah, karena aku tak sanggup menjadi  seekor ikan yang terdampar didarat sendirian. Rasanya sangat menyakitkan. Aku harus mencari majelis ilmu, tempatku untuk dapat terus  menimbah ilmu agama dan istiqomah terhadap pilihanku.
-singkat cerita-
Tak banyak yang ku harapkan saat ini, aku hanya mengharap ridho Allah dan Rahmat Allah tercurah untuk kedua orangtua ku, terkhusus ayahku.
Aku ingin ayah tahu, aku ingin ayah membaca ini.
“Ayah,jangan marah..jangan benci aku.. aku lakukan semua ini untuk ayah.. aku sayang ayah.. aku tidak mau ayah bertanggung jawab diakherat nanti akn dosaku karena tidak memakai pakaian sesuai syari’at.”
 “Ayah, sebelum ajal menjemputku, apapun akan aku lakukan untuk ayah agar ayah juga dapat mengerti dan mengetahui apa yang aku ketahui tentang dien ini, termasuklah caraku dengan menerbitkan buku-buku ini agar ayah membacanya, walau sebenarnya aku lebih ingin berdiskusi langsung panjang lebar dengan ayah, namun sangat sedikit waktu kita untuk bertatap muka karena setiap hari ayah mencari nafkah. Dan malam hari ayah sudah lelah.”
“Ayah, aku berjanji, aku akan membuat ayah bangga dihadapan Allah nanti, dan jikalaupun diakherat nanti aku dimasukkan ke Surga, aku tidak mau memasukinya sebelum aku pastikan ayah dan ibu juga berada disana. Aku ingin kita sekeluarga dapat bersama hingga disurga.”
“Ayah,  jangan marah..jangan benci aku.. aku lakukan semua ini untuk ayah..”
***
@Ri-Sakhi Al-Bashri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar