Ukhty, salahkah jika aku berbeda? Ini prinsip agama yang aku
pegang, yang dengan itu aku berharap kalian dapat menghargai keputusanku bukan
malah menjauhiku.
***
Mungkin
jika kamu menjadi aku saat ini, entah apa dan bagaimana sikap yang akan kamu perbuat?
Hidup dikerumunan orang yang menganggapmu “aneh”. Dianggap berbeda karena
mempertahankan sunnah. Ditambah lagi dengan kondisi orangtua mu yang belum
terlalu faham akan kebaikan dari sunnah itu.
Ya,
kamu pasti sulit membayangkannya bukan? Apalagi menjalankannya? Namun itulah
yang aku rasakan saat ini.
Ukhty,
mungkin dirimu lebih beruntung karena lingkungan mendukungmu, mulai dari
lingkungan tempat sekolahmu yang memang teguh terhadap sunnah itu, kemudian
orangtua yang selalu mendukungmu, atau bahkan bagi yang sudah bersuami selalu
di back-up oleh suami mu.
Sedangkan
aku?
Aku
tak seberuntung kalian. Namun aku sangat bersyukur akan hidayah yang telah Allah
berikan untukku, itu sudah sangat luar biasa bagiku.
Tapi
yang aku takutkan sekarang ialah, aku takut Allah mengambil hidayah itu dariku
setelah Ia memberinya. Aku takut aku tidak mampu untuk beristiqomah.
Ketika
mendapat hidayah itu, mungkin jalan yang ku tempuh berbeda dengan kalian. Aku mendapatkannya bukan dari guru, bukan
dari sekolah, juga bukan dari teman dan yang lainnya.
Aku
mendapatkan hidayah itu dari Kitab Suci Al-Qur’an ! Ya, kitab pedoman hidupku.
Ketika itu pertama kalinya aku khatam membaca terjemah alquran. Itupun aku
paksakan harus khatam membaca terjemahan Qur’an ini, karena aku malu, aku malu
pada Allah untuk mengaku diri seorang muslim, tapi kitab-kitab yang selain itu,
mulai dari buku pelajaran disekolah, komik ataupun novel sudah beratus-ratus
buku ku khatamkan. Namun terjemah Qur’an? Aku terus membaca arabnya, tanpa
berusaha untuk memahami maknanya.
Hidayah
itupun langsung aku dapatkan dalam satu waktu. Aku langsung mengetahui ISLAM secara KAFFAH(total),
sampai-sampai hal itu membuat kepalaku
pusing dan aku sangat takut. Aku takut jika tidak mengamalkannya karena aku
sudah mengetahuinya !
Untuk
itulah aku langsung pindah ke jurusan Tafsir Hadits Ushuluddin untuk lebih
menguatkan semua yang telah ku ketahui, dan pastinya hanya jurusan itu
satu-satunya dikampusku yang dapat lebih mendekatkanku dengan Al-Qur’an.
Sebulan
setelah pindah jurusan pun,akhirnya aku langsung menetapkan hati, untuk
mengamalkan sunnah itu, yakni “memakai cadar”.
***
Dan
mulai saat itulah ujian demi ujian ku rasakan, mulai dari cemoohan, ejekan,
hinaan bahkan sindiran, yah sindiran orang-orang yang meremehkan ku, karena aku
hanya alumni dari sekolah umum. Bukan aliyah, madrasah, pesantren dan
sebagainya. Mulai dari bahasa Arabku yang sangat kurang (karena pertama kali
mengetahui bahasa arab ialah dikampus),dan lain-lain. Tapi, hei?!! Apa kalian
tidak mengetahui, bagaimana dengan para mualaf yang baru mempelajari Islam
bahkan ilmu nya mampu mengungguli mu?
Ketahuilah, setiap orang yang mendapat hidayah, pasti ia memiliki alasan yang kuat untuk berdiri kokoh pada pilihannya walau sekalipun angin topan yang menghadang karena tempatnya bersandar cuma satu, yaitu Allah ! Allah yang akan melindunginya dan akan memahamkan ia tentang agama !
Ketahuilah, setiap orang yang mendapat hidayah, pasti ia memiliki alasan yang kuat untuk berdiri kokoh pada pilihannya walau sekalipun angin topan yang menghadang karena tempatnya bersandar cuma satu, yaitu Allah ! Allah yang akan melindunginya dan akan memahamkan ia tentang agama !
***
Pada
mulanya aku sangat sedih dan tertekan dengan banyaknya gunjingan yang
menimpaku, dan aku pun bingung kepada siapa aku sandarkan tubuh ini untuk mengadu,
kala itu ibuku belum benar-benar menerima cadarku, jadi aku tak berani untuk
menceritakan kegundahanku diluar sana. Aku hanya ingin ibu tahu bahwa aku
bahagia dengan keputusanku.
Namun
kalau ayah, hingga sekarang ayah belum bisa menerima cadarku. Namun kami
memiliki perjanjian. Dan aku tetap mengenakannya di kampus.
Seiring
dengan banyaknya tuduhan yang menyerangku. -Ah, aku tak mau mengingat apa saja
tuduhan-tuduhan yang mereka katakan.- Yang penting aku perjelas disini, TIDAK
ADA SEORANGPUN YANG MEMPENGARUHIKU. ! aku tidak mengikuti pengajian-pengajian
yang kalian tuduhkan ! aku juga bukan dari sekelompok tertentu yang kalian
fitnahkan ! Aku seorang Muslimah ! Dan hanya seorang muslimah yang berusaha
untuk menjadi lebih baik dan taat trhadap perintah Robbnya !
“Ya Allah..
Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui, janganlah Engkau menyiksaku karena apa yang mereka ucapkan dan
jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka perkirakan..” (Ali bin Abi
Thalib)
***.
Setelah
mendapatkan hidayah itu, barulah aku berfikir keras bagaimana cara agar aku
mampu tetap beristiqomah, karena aku tak sanggup menjadi seekor ikan yang terdampar didarat sendirian.
Rasanya sangat menyakitkan. Aku harus mencari majelis ilmu, tempatku untuk
dapat terus menimbah ilmu agama dan
istiqomah terhadap pilihanku.
-singkat
cerita-
Tak
banyak yang ku harapkan saat ini, aku hanya mengharap ridho Allah dan Rahmat
Allah tercurah untuk kedua orangtua ku, terkhusus ayahku.
Aku
ingin ayah tahu, aku ingin ayah membaca ini.
“Ayah,jangan
marah..jangan benci aku.. aku lakukan semua ini untuk ayah.. aku sayang ayah..
aku tidak mau ayah bertanggung jawab diakherat nanti akn dosaku karena tidak
memakai pakaian sesuai syari’at.”
“Ayah, sebelum ajal menjemputku, apapun akan
aku lakukan untuk ayah agar ayah juga dapat mengerti dan mengetahui apa yang
aku ketahui tentang dien ini, termasuklah caraku dengan menerbitkan buku-buku
ini agar ayah membacanya, walau sebenarnya aku lebih ingin berdiskusi langsung
panjang lebar dengan ayah, namun sangat sedikit waktu kita untuk bertatap muka
karena setiap hari ayah mencari nafkah. Dan malam hari ayah sudah lelah.”
“Ayah,
aku berjanji, aku akan membuat ayah bangga dihadapan Allah nanti, dan
jikalaupun diakherat nanti aku dimasukkan ke Surga, aku tidak mau memasukinya
sebelum aku pastikan ayah dan ibu juga berada disana. Aku ingin kita sekeluarga
dapat bersama hingga disurga.”
“Ayah, jangan marah..jangan benci aku.. aku lakukan
semua ini untuk ayah..”
***
@Ri-Sakhi Al-Bashri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar