Alhamdulillah telah terbit buku berjudul "Generasi Ghuroba"
yang di tulis oleh Ririn Irya bekerja sama dengan Fp Wanita Indonesia Bercadar semoga buku ini bermanfaat untuk ummat..
Buku "Generasi Ghuroba" membahas tentang cadar dengan tuntas, In sya
Allah bacaan yg tepat, cocok untuk kado, dan untuk memberi pemahaman kpd
orang-orang yg belum mengenal cadar.
Selain membahas tentang cadar, juga membahas tentang jilbab, khimar, kerudung, hijab, bahkan istilah2 seperti "jilboobs", dll..
Kemudian juga dilengkapi dg kisah inspiratif wanita2 bercadar dan kisah penulis juga ada di dalamnya.
Synopsis buku :
Bukanlah orang asing itu mereka yang berpisah dari negerinya.
Tapi, orang asing itu ialah mereka yang tetap serius ketika manusia di
sekelilingnya asyik bermain-main, tetap terbangun ketika manusia di
sekelilingnya tidur dengan pulasnya, dan tetap mengikuti jalan yang
lurus ketika yang lain tersesat tanpa arah.
Mereka yang tidak
terlena dengan gemerlapnya dunia, dan mereka yang tidak takut terhadap
cacian, hinaan, bahkan hukuman dari manusia di sekelilingnya—karena
mereka ialah orang-orang yang menjadikan Allah sebagai satu-satunya alasan hidup dan matinya. Ya, mereka itulah Al-Ghuroba!
“Cukuplah Allah menjadi penolong bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.” (QS. Ali Imran: 173)
* * *
Ketahuilah, bidadari dunia itu tidaklah bersayap, namun ia berhijab.
Menutup auratnya dengan sempurna, mereka yang mencintai Allah dan
Rasul-Nya. Mereka yang mencintai wanita-wanita salehah penghuni Surga,
Sayyidatuna Khadijah, Sayyidatuna Aisyah, Sayyidatuna Fathimah, dan yang
lainnya. Mereka yang mencintai orangtuanya, dan mereka yang mencintai
orang-orang yang juga mencintainya karena Allah.
* * *
Dari
Anas Radiallahu ‘Anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi
Wassallam bersabda: “Akan datang kepada umatku suatu zaman, dimana orang
yang berpegang teguh kepada agamanya ibarat orang yang menggenggam bara
api.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmizi dan selainnya. Dishahihkan oleh
Syekh Al-Albany dalam Ash-Shahihah No. 957)
"Mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat." (QS. Az-Zumar : 18)
bintang
Tampilkan postingan dengan label Buku Ririn Irya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Ririn Irya. Tampilkan semua postingan
Kamis, 15 Januari 2015
Senin, 03 November 2014
Apa yang Kau Tinggalkan Setelah Mati?
Beruntunglah orang yang menulis.
Beruntung karena mereka tidak melewatkan begitu saja detik-demi detik kehidupannya.
Mereka tidak membiarkan pemikiran yang dihadiahkan oleh Tuhan berlalu begitu saja.
Mereka mencatatnya, membaginya, hingga membuatnya menjadi sesuatu yang bermakna bagi diri sendiri maupun buat orang lain.
Miliki motivasi untuk berbagi.
Percayalah, ilmu, wawasan, pengalaman, sekecil apapun, jika dibagi, ia akan berdampak luas.
Menebarkan inspirasi kebaikan adalah sebuah kemuliaan jika kita meniatkannya mengharap balasan dari Tuhan.
Sekata tulisan kebaikan yang ditebar, tetaplah bernilai sedekah.
Sekata tulisan keburukan yang disebar, tetaplah bernilai dosa.
Maka tebarlah seluas mungkin kalimat-kalimat kebajikan.
Ibnu Al-Jauzi dalam Shaid Al-Khaatir pernah mengungkapkan:
Apabila seseorang telah meyakini bahwa kematian akan menghentikannya dari beramal, pasti ia akan mengerjakan sesuatu yang pahalanya mengalir pasca kematiannya. Ia akan:
· Mewakafkan harta
· Menanamkan tanaman
· Menggali sumur
· Mengusahakan keturunan yang akan mengingat Allah sepeninggalnya, hingga ia pun memperoleh pahala darinya
· Atau menulis buku.
Betapa indahnya jika saat itu Allah menjawab, "Ya, benar, kebaikanmu tak sebanyak itu. Tapi ribuan orang terinspirasi berbuat kebaikan setelah membaca karya-karyamu. Beragam amalan sunnah terkerjakan setelah mereka membaca kalimat yg hadir dari jemarimu".
"Menulis adalah bekerja demi keabadian. "
@Ri-Sakhi Al-Bashri
Beruntung karena mereka tidak melewatkan begitu saja detik-demi detik kehidupannya.
Mereka tidak membiarkan pemikiran yang dihadiahkan oleh Tuhan berlalu begitu saja.
Mereka mencatatnya, membaginya, hingga membuatnya menjadi sesuatu yang bermakna bagi diri sendiri maupun buat orang lain.
Miliki motivasi untuk berbagi.
Percayalah, ilmu, wawasan, pengalaman, sekecil apapun, jika dibagi, ia akan berdampak luas.
Menebarkan inspirasi kebaikan adalah sebuah kemuliaan jika kita meniatkannya mengharap balasan dari Tuhan.
Sekata tulisan kebaikan yang ditebar, tetaplah bernilai sedekah.
Sekata tulisan keburukan yang disebar, tetaplah bernilai dosa.
Maka tebarlah seluas mungkin kalimat-kalimat kebajikan.
Ibnu Al-Jauzi dalam Shaid Al-Khaatir pernah mengungkapkan:
Apabila seseorang telah meyakini bahwa kematian akan menghentikannya dari beramal, pasti ia akan mengerjakan sesuatu yang pahalanya mengalir pasca kematiannya. Ia akan:
· Mewakafkan harta
· Menanamkan tanaman
· Menggali sumur
· Mengusahakan keturunan yang akan mengingat Allah sepeninggalnya, hingga ia pun memperoleh pahala darinya
· Atau menulis buku.
Betapa indahnya jika saat itu Allah menjawab, "Ya, benar, kebaikanmu tak sebanyak itu. Tapi ribuan orang terinspirasi berbuat kebaikan setelah membaca karya-karyamu. Beragam amalan sunnah terkerjakan setelah mereka membaca kalimat yg hadir dari jemarimu".
"Menulis adalah bekerja demi keabadian. "
@Ri-Sakhi Al-Bashri
Jumat, 17 Oktober 2014
Aku Bukan Novelis !
Alhamdulillah wa syukrillah ala kulli haal.. "Sebelum kematian menjemputku, aku ingin menerbitkan 100 buku karya tulisku" ,dan semakin dekatlah aku dengan impian itu. Ya, walau sekarang baru terbit 2 buku, in sya Allah 98 buku selanjutnya tengah menanti. :)
***
Entah sejak kapan hobbi yang satu ini mendarah daging, ia terjadi tanpa aku sadari, hanya satu alasanku tetap setia pada hobbi yang satu ini, ianya karena aku "ingin berbagi".
aku ingin orang juga tahu, apa yang aku tahu. aku ingin orang dapat berubah kearah yang lebih baik setelah membaca setiap coretan tinta penaku.
Bahkan dulu, aku sangat senang dengan hobbi ini, karena aku bisa merubah dunia dengan sesuka hatiku !
Ya, aku bisa saja membuat seorang pengemis menjadi konglomerat dengan tulisanku, aku bisa saja mengubah presiden menjadi binatang seperti tikus berdasi, aku bisa saja membuat orang yang biasa saja menjadi orang yang luar biasa bahkan setingkat dewa, dan lain-lain.
Tidak ada hal yg tidak bisa ku ubah dengan tulisanku, cukup bermain dengan kata-kata, menyelami lautan imajinasi yang ku buat kemudian ku sodorkan kepada setiap pembaca ! Amazing bukan ?
***
Namun ada satu yang tertinggal kala itu, aku lupa apa tujuan ku dalam menulis semua itu? Apa hanya sekedar ingin coba-coba? Apa hanya sekedar ingin dikenal?
"Astaghfirullahal'adzim"
Teruslah perbaharui niat, pastikan titik fokus yang dituju ialah untuk menggapai ridho Allah !
Itulah alasan, mengapa aku berhati-hati dalam hobbi yang satu ini, walau ia terlihat sangat menarik dan mengasyikkan, namun jika sampai terlena ia pun bisa menjadi ladang dosa. Mengapa demikian? Karena dalam membuat syair, puisi ataupun sajak, Islam telah mengaturnya ! Subhanallah sungguh tiada satu celahpun dalam kehidupan ini yang tidak bisa disentuh oleh nilai-nilai islam.
Dalam ajaran Islam, tidak ada larangan untuk menulis syair, puisi, ataupun sajak.
Allah SWT berfirman:
وَالشُّعَرَاء يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ. أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ. وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لا يَفْعَلُونَ. إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا وَانتَصَرُوا مِن بَعْدِ مَا ظُلِمُوا
“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap- tiap lembah. Dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)? Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman.” (QS. Asy-Syu’ara`: 224-227)
Dalam hadist dibawah ini juga dijelaskan diperbolehkannya menulis dan membaca syair.
إِنَّ مِنْ الشِّعْرِ حِكْمَةً
“Sesungguhnya di antara syair itu ada yang merupakan hikmah.” (HR. Al-Bukhari no. 6145)
Dari Al-Bara` bin ‘Azib radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Hassan bin Tsabit pada perang Quraizhah:
اهْجُ الْمُشْرِكِينَ فَإِنَّ جِبْرِيلَ مَعَكَ
“Seranglah kaum musyrikin (dengan syairmu), karena Jibril bersamamu.” (HR. Al-Bukhari no. 6153 dan Muslim no. 2486)
Namun, meskipun demikian. ada satu hadist yang meriwayatkan tentang keburukan dalam bersyair (baik membaca ataupun menulis).
Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
لَأَنْ يَمْتَلِئَ جَوْفُ أَحَدِكُمْ قَيْحًا يَرِيهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا
“Sesungguhnya perut salah seorang di antara kalian penuh dengan nanah hingga merusak ususnya, itu lebih baik daripada perutnya penuh dengan syair (sajak).” (HR. Al-Bukhari no. 6154 dan Muslim no. 2258)
Jadi, kita sebagai umat islam diperbolehkan menulis atau membaca syair "yang berisi kebaikan dan ajakan membentuk akhlaq yang lebih baik." Syair itu baik jika dapat melembutkan hati dan menanamkan perilaku positif terhadap pembacanya, terlebih lagi yang dapat meningkatkan ketaqwaan seseorang.
***
"AKU BUKAN NOVELIS" !
Demi Allah, aku tidak berani untuk mengarang cerita dengan alasan membela agama ! Karena yang namanya mengarang cerita itu tetaplah berbohong, terlebih lagi mengatas namakan Allah dan Rasul-Nya !
***
"AKU BUKAN NOVELIS" !
Ku harap setiap pembaca tidak salah sangka terhadapku, judul buku yang ku buat memang kuusahakan semenarik mungkin. Apalagi target yang ku utamakan disni utk membaca buku ku ialah kaum remaja.
***
"AKU BUKAN NOVELIS" !
***
Entah sejak kapan hobbi yang satu ini mendarah daging, ia terjadi tanpa aku sadari, hanya satu alasanku tetap setia pada hobbi yang satu ini, ianya karena aku "ingin berbagi".
aku ingin orang juga tahu, apa yang aku tahu. aku ingin orang dapat berubah kearah yang lebih baik setelah membaca setiap coretan tinta penaku.
Bahkan dulu, aku sangat senang dengan hobbi ini, karena aku bisa merubah dunia dengan sesuka hatiku !
Ya, aku bisa saja membuat seorang pengemis menjadi konglomerat dengan tulisanku, aku bisa saja mengubah presiden menjadi binatang seperti tikus berdasi, aku bisa saja membuat orang yang biasa saja menjadi orang yang luar biasa bahkan setingkat dewa, dan lain-lain.
Tidak ada hal yg tidak bisa ku ubah dengan tulisanku, cukup bermain dengan kata-kata, menyelami lautan imajinasi yang ku buat kemudian ku sodorkan kepada setiap pembaca ! Amazing bukan ?
***
Namun ada satu yang tertinggal kala itu, aku lupa apa tujuan ku dalam menulis semua itu? Apa hanya sekedar ingin coba-coba? Apa hanya sekedar ingin dikenal?
"Astaghfirullahal'adzim"
Teruslah perbaharui niat, pastikan titik fokus yang dituju ialah untuk menggapai ridho Allah !
Itulah alasan, mengapa aku berhati-hati dalam hobbi yang satu ini, walau ia terlihat sangat menarik dan mengasyikkan, namun jika sampai terlena ia pun bisa menjadi ladang dosa. Mengapa demikian? Karena dalam membuat syair, puisi ataupun sajak, Islam telah mengaturnya ! Subhanallah sungguh tiada satu celahpun dalam kehidupan ini yang tidak bisa disentuh oleh nilai-nilai islam.
Dalam ajaran Islam, tidak ada larangan untuk menulis syair, puisi, ataupun sajak.
Allah SWT berfirman:
وَالشُّعَرَاء يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ. أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ. وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لا يَفْعَلُونَ. إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا وَانتَصَرُوا مِن بَعْدِ مَا ظُلِمُوا
“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap- tiap lembah. Dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)? Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman.” (QS. Asy-Syu’ara`: 224-227)
Dalam hadist dibawah ini juga dijelaskan diperbolehkannya menulis dan membaca syair.
إِنَّ مِنْ الشِّعْرِ حِكْمَةً
“Sesungguhnya di antara syair itu ada yang merupakan hikmah.” (HR. Al-Bukhari no. 6145)
Dari Al-Bara` bin ‘Azib radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Hassan bin Tsabit pada perang Quraizhah:
اهْجُ الْمُشْرِكِينَ فَإِنَّ جِبْرِيلَ مَعَكَ
“Seranglah kaum musyrikin (dengan syairmu), karena Jibril bersamamu.” (HR. Al-Bukhari no. 6153 dan Muslim no. 2486)
Namun, meskipun demikian. ada satu hadist yang meriwayatkan tentang keburukan dalam bersyair (baik membaca ataupun menulis).
Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
لَأَنْ يَمْتَلِئَ جَوْفُ أَحَدِكُمْ قَيْحًا يَرِيهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا
“Sesungguhnya perut salah seorang di antara kalian penuh dengan nanah hingga merusak ususnya, itu lebih baik daripada perutnya penuh dengan syair (sajak).” (HR. Al-Bukhari no. 6154 dan Muslim no. 2258)
Jadi, kita sebagai umat islam diperbolehkan menulis atau membaca syair "yang berisi kebaikan dan ajakan membentuk akhlaq yang lebih baik." Syair itu baik jika dapat melembutkan hati dan menanamkan perilaku positif terhadap pembacanya, terlebih lagi yang dapat meningkatkan ketaqwaan seseorang.
***
"AKU BUKAN NOVELIS" !
Demi Allah, aku tidak berani untuk mengarang cerita dengan alasan membela agama ! Karena yang namanya mengarang cerita itu tetaplah berbohong, terlebih lagi mengatas namakan Allah dan Rasul-Nya !
***
"AKU BUKAN NOVELIS" !
Ku harap setiap pembaca tidak salah sangka terhadapku, judul buku yang ku buat memang kuusahakan semenarik mungkin. Apalagi target yang ku utamakan disni utk membaca buku ku ialah kaum remaja.
***
"AKU BUKAN NOVELIS" !
Jumat, 03 Oktober 2014
"Menggapai Hidayah Dengan Cinta"
Kita
sering kali mengakui bahwa kita mencintai Allah, tapi mengapa kita masih saja mengerjakan
hal yang dilarang oleh-Nya? Bahkan kita mengakui bahwa kita mencintai Allah,
tapi mengapa justru kita lebih banyak membaca novel ataupun comic dari pada
membaca kitab-Nya? Lantas apakah dengan pengakuan cinta terhadap-Nya -yang hanya
sebatas kata itu-, Allah juga akan mencintai kita?
Kita
sering kali mengakui bahwa kita mencintai Rasulullah, namun disaat yang sama
kita malah tergila-gila dengan artis korea. Bahkan kita mengakui bahwa kita
mencintai Rasulullah, tapi mengapa SMS dari teman/pacarmu lebih sering kau baca
daripada SMS/Surat Cinta dari Rasulullah berupa hadits-haditsnya? Lantas apakah
dengan pengakuan cinta terhadap Rasulullah -yang hanya sebatas kata itu-, dihari
kiamat nanti Rasulullah akan mengakuimu sebagai umatnya?
Tidak! Dan bukan seperti itu hakikat dari CINTA. Hakikat
cinta ialah suci, mampu menentramkan jiwa,
membangkitkan semangat, dan mendorong untuk melakukan hal-hal yang
positif, baik, dan berguna bukan hal
yang sebaliknya.
Cinta, adalah kekuatan untuk mengubah dan menggugah. Tak
sedikit kita temui, orang mampu berubah kearah yang lebih baik karena cinta. Bahkan orang beragama non-muslim,
karena cinta yang tertancap kuat dihati terhadap Dzat yang menciptakan dirinya,
maka dapat menggugah dirinya untuk kembali pada jalan yang lurus yakni, Islam. Cinta yang harus diutamakan diatas segala cinta adalah cinta pada
Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Itulah puncak
dari segala kebahagiaan yang ada di Dunia dan itu sangatlah berharga. Maka
merugilah orang yang tidak mengetahui hakikat cinta dan tidak bisa menggapai
hidayah Allah dengannya.
Hidayah
Allah hanya akan datang kepada orang yang mengharapkan dan mencarinya. Bukan
Islam yang harus menyesuaikan diri dengan kita, tapi kitalah yang harus
menyesuaikan diri dengan Islam. Walau berat bagi kita, tapi hanya Islamlah yang
sesuai untuk fitrah manusia.
Kamis, 25 September 2014
~Mencintai dengan benar~
Tidak ada yang salah dengan rasa cinta yang kita miliki, mencintai seseorang adalah anugerah terindah yang diberikan oleh Allah bagi setiap hamba-Nya, hanya saja apakah kita mencintai dengan cara yang
benar atau tidak?
Kalau benar, maka bersyukurlah, berarti kita tidak salah meletakkan cinta yang sesungguhnya.
Akan tetapi, kalau salah, maka kita akan buta, tidak tahu arah, tidak tahu mana yang dosa dan mana yang berpahala,
Cinta tak selalu cerah ceria, kadang berwarna kelam dan suram. Di sini pentingnya pengelolaan cinta yang baik. Menyandarkan cinta kepada pemilik cinta, Allah swt. Agar saat kelam tak tenggelam, saat terpuruk tidak ambruk, dan saat datang badai tidak tergoyahkan. Cinta tetap ada dan tersambung kepadaNya. Sehingga, cinta tetap menebarkan aromanya, menyeruak dalam dada dan menggugah ruang jiwa. Semerbak harum mewangi dan menelisik relung-relung hati sanubari. Tetap semangat. Tetap tumbuh, mekar, dan berbunga.
Mencintai dengan benar. Agar cinta benar-benar berbuah bahagia dunia hingga akhirat. Pertama, cinta kita adalah cinta yang sehat; kedua, cinta kita adalah cinta yang taat; ketiga, cinta kita adalah cinta yang kuat; dan keempat, cinta kita adalah inspirasi penggugah jiwa.
Cinta yang sehat diterpa oleh syariat, jauh dari maksiat, nafsu, syahwat, dan syubhat. Yang ada adalah keteguhan jiwa, kebersihan hati untuk selalu dekat dengan Ilahi. Cinta jalannya adalah dakwah, nilainya ibadah, panduannya takwa, dan muaranya bahagia. Inilah cinta yang sehat, cinta yang jauh dari jerat maksiat.
Selanjutnya bagaimana cinta yang taat, kuat, dan inspirasi penggugah jiwa? -Temukan dalam buku ini!- Karena rasa cinta adalah karunia yang mesti disyukuri. Mengundang pahala bila diekspresikan sesuai dengan porsinya. Sesuai syariat Allah dan Rasul-Nya. Buku ini akan mengajak kita untuk merayakan cinta yang menyeruak dalam dada; cinta yang tumbuh sehat, kuat, mekar, dan berbunga. Belajar menata hati untuk melahirkan cinta yang hakiki dan cinta sejati, sehingga hati tak salah mencintai.
*Cara pemesanan buku "CerIs dan PuMi. Hubungi : 081907820606 atau Fanspage : Penerbit Meta Kata
Kalau benar, maka bersyukurlah, berarti kita tidak salah meletakkan cinta yang sesungguhnya.
Akan tetapi, kalau salah, maka kita akan buta, tidak tahu arah, tidak tahu mana yang dosa dan mana yang berpahala,
Cinta tak selalu cerah ceria, kadang berwarna kelam dan suram. Di sini pentingnya pengelolaan cinta yang baik. Menyandarkan cinta kepada pemilik cinta, Allah swt. Agar saat kelam tak tenggelam, saat terpuruk tidak ambruk, dan saat datang badai tidak tergoyahkan. Cinta tetap ada dan tersambung kepadaNya. Sehingga, cinta tetap menebarkan aromanya, menyeruak dalam dada dan menggugah ruang jiwa. Semerbak harum mewangi dan menelisik relung-relung hati sanubari. Tetap semangat. Tetap tumbuh, mekar, dan berbunga.
Mencintai dengan benar. Agar cinta benar-benar berbuah bahagia dunia hingga akhirat. Pertama, cinta kita adalah cinta yang sehat; kedua, cinta kita adalah cinta yang taat; ketiga, cinta kita adalah cinta yang kuat; dan keempat, cinta kita adalah inspirasi penggugah jiwa.
Cinta yang sehat diterpa oleh syariat, jauh dari maksiat, nafsu, syahwat, dan syubhat. Yang ada adalah keteguhan jiwa, kebersihan hati untuk selalu dekat dengan Ilahi. Cinta jalannya adalah dakwah, nilainya ibadah, panduannya takwa, dan muaranya bahagia. Inilah cinta yang sehat, cinta yang jauh dari jerat maksiat.
Selanjutnya bagaimana cinta yang taat, kuat, dan inspirasi penggugah jiwa? -Temukan dalam buku ini!- Karena rasa cinta adalah karunia yang mesti disyukuri. Mengundang pahala bila diekspresikan sesuai dengan porsinya. Sesuai syariat Allah dan Rasul-Nya. Buku ini akan mengajak kita untuk merayakan cinta yang menyeruak dalam dada; cinta yang tumbuh sehat, kuat, mekar, dan berbunga. Belajar menata hati untuk melahirkan cinta yang hakiki dan cinta sejati, sehingga hati tak salah mencintai.
*Cara pemesanan buku "CerIs dan PuMi. Hubungi : 081907820606 atau Fanspage : Penerbit Meta Kata
Langganan:
Postingan (Atom)





